Lima belas tahun silam, para promotor seni pertunjukan, khususnya musik pop harus ekstra keras meyakinkan bintang-bintang dunia agar mau naik panggung di Jakarta. Para ikon besar seni musik pop dan pertunjukan dunia biasanya menetapkan agendanya ke Singapura, dan jika ada peluang, akan singgah ke Jakarta. Tapi kini keadaanya terbalik. Para bintang besar atau grup top dunia ‘antre’ untuk manggung di Jakarta. Bahkan, Lady Gaga pun sudah siap manggung di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada bulan Juli 2012.

Dapat dibilang saat ini Lady Gaga adalah alat ukur paling kredibel pasar pertunjukan musik pop dunia. Untuk mengecek apakah suatu negara atau kota layak sebagai pasar utama pertunjukan musik pop, maka tinggal lihat, apakah Lady Gaga mau manggung di situ atau tidak. Tak pelak, Jakarta telah menjadi barometer utama di Asia Tenggara, bahkan Asia, dan lihatkah histeria K-Pop yang menjalar tanpa ampun kemana-mana, hingga ke pelosok Gunung Kersan, atau Sempu, Bantul, Jogja sana. Tak hanya musik pop, dari dalam negeri pun muncul beberapa pentas besar pertunjukan musikal yang beroleh sponsor kakap, dan ribuan bahkan jutaan penonton pula.

Jika pertunjukan musik dapat dilakukan di lapangan terbuka, maka pertunjukan musikal, opera, atau teater, membutuhkan gedung pertunjukan yang benar-benar memadai. Tapi sayangnya, infrastruktur itu sangat minim. Banyak orang yakin bahwa pertunjukan sekelas The Lion King, Julie Taymor, atau Phantom of The Opera-nya Andrew Lloyd Webber, akan siap mentas di Indonesia jika tersedia gedung pertunjukan yang layak. Koreografer top Asia asal Taiwan, Lin Hwai-min pernah berkata, bahwa ia ingin mentas di Jakarta, tapi tak menemukan gedung yang representatif. Begitu juga dengan grup-grup besar lainnya.

Jadi, pada dasarnya, pasar seni pertunjukan di Indonesia, khususnya Jakarta, memang menggiurkan. Daya beli kelas menengah kita semakin mendunia, tapi infrastrukturnya belum siap, baik negara dan swasta, sama-sama telat mengantisipasi perkembangan tersebut. Banyak kota-kota selain Jakarta masih menjadi pasar yang tidur karena tak memiliki fasilitas pertunjukan sama sekali. Tapi ketiadaan infrastruktur tak menyurutkan kemunculan dan pertumbuhan kelompok-kelompok teater, bahkan dapat menembus beberapa festival internasional.

Secara kasar kita melihat dua jenis teater di Indonesia. Yaitu teater sebagai kerja kolektif, dan bagian dari aktivitas sosial atau pertumbuhan suatu komunitas, yang mengarah pada gerakan perlawanan. Satunya lagi adalah teater sebagai pertunjukan panggung. Teater jenis pertama sulit digolongkan sebagai produk atau brand yang dapat dikomodifikasi, dan bahkan dapat dibilang menolak atau melawan gejala komodifikasi dalam arus deras komsumerisme dalam bentuk apapun. Sementara jenis kedua adalah teater yang memang dirancang untuk dijual.

Jika pada teater jenis pertama berlaku kaidah dan pendekatan yang lebih kompleks, pada jenis teater kedua berlaku kaidah ekonomi-pasar yang lebih sederhana. Produk yang bagus dan didukung strategi pemasaran yang kuatlah yang akan sukses. Teater koma adalah contoh terbaik dari teater jenis ini. Saya yakin banyak grup teater lain yang tak kalah kualitasnya dibanding Teater Koma. Mereka siap dijual. Industri televisi juga terus tumbuh. Bahkan sinetron hantu-hantuan yang paling buruk pun juga ditonton. (Jika produk buruk saja terjual, apalagi jika produk itu bagus). Konsumen kita pada dasarnya memang bukan konsumen yang rewel. Mereka dapat menelan apa saja. Bayangkan jika tema hantu-hantuan itu digarap dengan bagus, maka hasrat pasar (masyarakat kita yang secara kultural memang akrab dengan hantu-hantuan) akan semakin terpuaskan.

Artinya konsumen Indonesia kini memang sanggup membeli apa saja. Tapi siapa penjualnya? Siapa produser seni pertunjukan (teater) yang mampu mendisain produk yang dibutuhkan konsumen? Rupanya pertumbuhan pasar tak diiringi dengan perkembangan sumber daya dan perkembangan institusionalnya. Perkembangan suatu industri, apalagi industri kreatif, sangat ditentukan oleh organisasi penyangganya. Kita sering mendengar anak-anak muda pencipta hebat yang kemudian direkrut oleh industri kreatif dunia. Kadang, para kreator hebat itu muncul di pelosok tanah air tanpa gembar-gembor, dan sudah menjadi bagian dari mesin indutri kreatif global.

Tapi model jaringan khusus semacam itu tak selalu dapat dijadikan acuan umum. Bagaimanapun, setiap industry menuntut pertumbuhan sistem manajemen yang kompatibel dengan indutri tersebut. Suatu Art-world hanya dapat tumbuh sehat jika segala perangkat institusional dan infrastrukturnya juga berkembang dengan baik. Jika suatu hal tidak terjadi, maka yang muncul adalah sejenis ekonomi bazar. Suatu kegiatan yang riuh, penuh timbunan transaksi, tapi tidak membentuk suatu sistem yang mantap. Bagaimanapun “pasar malam” segera usai setelah pagi datang. Timbunan peristiwa di situ dapat terus membesar tapi mudah gembos, rapuh seperti gelembung sabun.

Di tengah riuhnya ekonomi bazar itu, dan absennya institusi penyangga berikut promotor serta manajemen seni pertunjukan, maka para pekerja dan grup teater terpaksa melakukan tiga hal: membuat pertunjukan (sebagai kreator-produsen) membangun infrastruktur, mengembangkan manajemen menjadi tukang jualan sekaligus. Mereka harus piawai bergrilya di belantara transaksi apapun (ekonomi, politik, lobi jaringan, dan sebagainya, dan sebagainya). Model gerilya menyusup sana-sini itu harus dilakukan, karena belum terbentuk sistem ekonomi yang  jelas dan baku sebagai model bazar itu. Pihak sponsor pun terpaksa melakukan hal serupa, dan konsumen (yang koceknya kian tebal itu) juga harus piawai meraba-raba menemukan produk yang benar-benar diinginkan.

Di mata konsumen, postur dan konfigurasi seni pertunjukan di Indonesia belum terpetakan secara akurat, dan celakanya tak banyak yang muncul para juru peta yang dapat menghubungkan antara produsen dan konsumen. Sekali lagi negara absen di sini. Sulit membayangkan disain atau strategi budaya (yang pop maupun eksperimental) seperti yang dilakukan Korea tempat ekspansi K-Pop, sebagai ekspansi budaya, merupakan bagian dari strategi besar industrialnya. Di Indonesia semuanya berlangsung tanpa disain. Rupanya kita lebih asik tenggelam dalam keriuhan pasar malam, ketimbang kita membuat rancangan industri yang terukur.

Maka, dalam rimba semacam itu, yang berlaku adalah pergumulan adu untung. Orang teater di Indonesia memang orang sakti. Mereka terpaksa terus bergrilya di tiga bidang kerja (pencipta, pengembang organisasi, dan pemasar) sekaligus, dan karena tak ada ukuran yang jelas, maka, hanya yang memiliki stamina serta kemampuan tak terbatas yang dapat bertahan di situ. Ke depan, tantangan yang jauh lebih besar adalah bagaimana mengubah pasar malam itu menjadi sistem industri kreatif, yang terdesain secara lebih integral. Tapi tentu, itu bukan tugas orang teater. Itu tugas pasar dan para aparatnya.

 

Wicaksono Adi

(gambar ilustrasi oleh: Toni Malakian)

Tulisan di atas merupakan kolom ragam pada pertunjukan Indonesia Kita: Jogja Broadway – Apple I’m in Love