Pada suatu ketika, pada suatu zaman, peradaban mencapai puncak kemajuannya. Negara mampu mensejahterakan rakyatnya. Hukum berlaku seadil-adilnya pada semua warga negara. Tak ada kesenjangan ekonomi dan sosial. Kemakmuran melimpah ruah hingga seluruh rakyat hidup sejahtera bahagia. Cita-cita membangun negara yang “adil makmur tata titi tentrem kerta raharja gemah ripah loh jinawi” akhirnya bisa diwujudkan. Dan itu terjadi ketika seluruh pemimpin negeri itu adalah perempuan. Pemimpin, politisi, hakim, birokrat, pegawai, semuanya perempuan.

Bahkan seluruh penduduk negeri itu adalah perempuan!

Laki-laki, sumber segala konsep nilai dan budaya patriarki yang telah membentuk peradaban selama berabad-abad, telah dianggap gagal dan dibuang jauh-jauh. Tak ada lagi dominasi laki-laki. Tak ada lagi kekerasan atau pelecehan seksual oleh laki-laki. Lema kata “laki-laki” dan seluruh sinonimnya, bahkah telah dihapus dari kamus.

Dunia tanpa laki-laki adalah dunia yang bisa mencapai keadilannya. Para perempuan telah mampu membuat tatanan yang adil dan beradab, ketika semua hal diselenggarakan perempuan: dari perempuan oleh perempuan dan untuk perempuan. Dunia yang tenang dan nyaman tanpa laki-laki. Itulah zaman keemasan perempuan.

RAGAM

feat2011-1-maret-IK-LaskarDagelan

Yogya Pangkal Ketawa

“Saya tahu Anda sekalian menahan ketawa karena Anda mengira di masjid dilarang ketawa,” katanya lagi. Mereka mendongak ke mimbar, memperhatikan sang khatib, yang fasih menguraikan sifat Tuhan yang mahajenaka.

Mohamad Sobary

tombolselengkapnya

PANGGUNG SEBELUMNYA