Pentaskan ‘Calon Lawan’, Indonesia Kita Usung 

Perebutan Pengaruh dan Kekuasan Antarkelompok

 

“Sebentar lagi ramai pesta elektoral. Kita akan melihat kontestasi para pemimpin untuk mendapatkan panggung pemberitaan. Dan biasanya, pada saat seperti itulah, para pemimpin membutuhkan panggung seni sebagai bagian yang meramaikan panggung politik mereka. Mereka datang ke konser musik, bukan untuk menonton, tetapi agar disorot dan muncul di banyak media. Acara-acara seni banyak digelar dan diadakan dalam keriuhan politik, tetapi semua itu hanya menjadi cara untuk mengundang dan menghibur massa,” ujar Agus Noor, penulis dan Direktur Artistik Calon Lawan. Untuk itulah, lakon Indonesia Kita ke- 40 ini bakal menjadi momen warming up bagi publik maupun para kontestan calon presiden sebelum maju berlaga.

Kisah Calon Lawan ini menampilkan dunia pertarungan bawah tanah di mana para kelompok saling berebut pengaruh dan kekuasaan. Pertarungan antar dua kelompok yang sama kuat pun terjadi. Berkali-kali terjadi pertarungan antar dua kelompok ini yang melibatkan jagoan-jagoan terbaik yang dimiliki keduanya. Saat situasi kian menegangkan, muncul beberapa kejadian misterius, yang membuat masing-masing kubu saling curiga. Ada beberapa penyerangan, tetapi tak bisa diketahui siapa yang melakukan. Situasi ini mendorong kemunculan dugaan bahwa ada jagoan misterius, sosok yang tak terlihat, yang bergerak cepat melebihi bayangan, dengan kesaktian yang tak tertandingi. Jagoan yang memiliki kemampuan membunuh lebih cepat dari malaikat maut. Sebagai lawan, sosok itu bagai tak terlihat, tetapi memiliki kekuatan yang hebat. Sosok lawan yang penuh siasat. Cemas dengan kondisi ini, kedua kelompok yang tadinya berseteru kemudian mencoba bersatu untuk melawan “sosok tak terlihat” untuk mengetahui identitasnya yang sebenarnya.

Seperti biasanya Indonesia Kita yang selalu mengusung sentuhan budaya di setiap pementasannya, kali ini Agus Noor sebagai Penulis dan Direktur Artistik, memilih olahan seni bela diri wushu untuk memunculkan nuansa persaingan dan pertarungan antara lawan-lawan yang tengah beradu kekuatan. Jalinan cerita ini akan mengingatkan para penonton pada kisahkisah silat dan bela diri. Namun di sisi lain, penonton diajak untuk menyadari bahwa pertarungan antar kelompok yang kemudian malah bersatu, juga muncul di panggung politik. Calon-calon yang tadinya tampak berlawanan dan bermusuhan, bahkan hingga memunculkan perseteruan di antara para pendukungnya, pada akhirnya malah berada dalam satu kubu. Yang sebelumnya tampak beroposisi, menjadi saling mendukung.

“Indonesia Kita selalu mencoba berperan sebagai refleksi atas apa yang terjadi di negara ini. Dengan cara budaya, kami berupaya mengingatkan terutama bagi para wakil rakyat untuk tidak melupakan dan meninggalkan janji-janji mereka di hadapan para pemilih. Lakon Calon Lawan ini kami harapkan bisa mengajak para penonton untuk menyambut pesta elektoral nanti dengan santai, gembira, dan tentunya tetap kompak dalam perbedaan pilihan dan pendapat. Tidak perlu kita sampai harus berseteru di level horizontal, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di panggung politik yang sesungguhnya nanti. Marilah kita terus bersatu dalam kebhinekaan kita,” ujar Butet Kartaredjasa, pendiri Indonesia Kita.

Cerita ini sangat tepat dipilih dan disajikan Indonesia Kita menjelang Pilpres 2024. Terutama melihat begitu riuhnya panggung politik di menjelang akhir tahun ini, di mana semua calon seolah-olah berebut tampil di hampir setiap kesempatan dan acara-acara publik termasuk pertunjukan kebudayaan.

“Pementasan Calon Lawan diharapkan akan menjadi sebuah cerminan seni yang cerdas dan memikat, yang merangsang pemirsa untuk merenungkan perjalanan politik Indonesia saat ini. Melalui gerakan-gerakan indah wushu dan kisah dramatis yang dipersembahkan dengan begitu indah, pertunjukan ini akan membawa kita lebih dekat ke pusat gelombang perubahan yang tengah terjadi di negara ini. Pementasan ini akan menjadi sebuah pengalaman seni yang tidak terlupakan, yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan sudut pandang unik tentang perjalanan politik Indonesia saat ini,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

 

Pentas ke 40

Judul Pentas: Calon Lawan

Jadwal: Jumat, 20 Oktober 2023 – Pukul 20.00 WIB | Sabtu, 21 Oktober 2023 – Pukul 20.00 WIB

Venue : Graha Bakti Budaya – Taman Ismail Marzuki Jakarta Jl. Cikini Raya No.73, Jakarta Pusat

Pendiri: Djaduk Ferianto, Butet Kartaredjasa, dan Agus Noor

Naskah & Sutradara: Agus Noor

Asisten Sutradara: Joind Bayuwinanda

Penata Artistik: Ocklay dan Sigit

Penata Musik: Arie Pekar

Penata Tari: Josh Marcy

Penata Cahaya: Deray Setiadi

Penata Kostum: Olla Simatupang

Penata Rias: Sena Sukarya

Pemain: Butet Kartaredjasa | Cak Lontong | Akbar | Inaya Wahid | Marwoto | Wisben | Joned | Oppie Andaresta | Yu Ningsih | Joel Kriwil | Sri Krishna Encik | Mucle | Joind Bayu Winanda | Wushu Inti Bayangan

 

HTM Calon Lawan:

Zona Oranye: Rp1.200.000 | Zona Hijau: Rp1.000.000 | Zona Ungu: Rp750.000 | Zona Kuning: Rp500.000 | Zona Biru: Rp 350.000 | Zona Merah: Rp200.000

Reservasi Tiket : 0813 622226 10 | 0813 622226 17

 

Informasi:

Website: www.kayan.co.id | Instagram: kayanproduction | Twitter: @infoKAYAN

#JanganKapokMenjadiIndonesia

Terima Kasih.